| Perdagangan |
| Selasa, 08/04/2008 |
| KUOTA Ekspor kopi Lampung naik |
| BANDAR LAMPUNG: Volume ekspor kopi Lampung pada Maret 2008 mencapai 15.207 ton dengan nilai US$31,93 juta. "Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor Maret 2007 yang tercatat 3.493,3 ton, dengan nilai US$5,94 juta," kata Ketua DPD Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung, Suherman Harsono, kemarin. Volume ekspor kopi Lampung pada Februari 2008 cukup tinggi, mencapai 24.180 ton dengan nilai US$43,19 juta. Total volume ekspor Lampung pada Januari-Maret 2008 mencapai 53.321 ton dengan devisa US$99,53 juta. Harga kopi robusta sekarang rata-rata Rp18.000-Rp19.000/kg, atau turun jika dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya yang sempat menembus angka Rp27.000/kg di tingkat petani, sedangkan di bursa London, harga kopi robusta di pasaran dunia mencapai US$2.253 per ton. Antara) |
© Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited. |
Monday, April 7, 2008
Bisnis 8-Apr-08: Ekspor kopi Lampung naik
Bisnis 8-Apr-08: Impor Beras Dihentikan (Janji Pemerintah nih)
| Perdagangan |
| Selasa, 08/04/2008 |
| KUOTA Impor beras dihentikan |
| YOGYAKARTA: Pemerintah menegaskan komitmen untuk menghentikan impor beras dan mengajak para petani meningkatkan produksi beras guna pemenuhan kebutuhan dalam negeri serta ekspor. Hal ini terungkap dalam dialog antara Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan para petani di dusun Niten, Desa Trirenggo, Kabupaten Bantul. Dialog ini merupakan bagian dari kunjungan kerja tiga hari pada 5-7 April yang dilakukan Wapres ke Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam dialog tersebut terlihat para petani masih memiliki kekhawatiran akan melubernya beras impor yang dapat memukul harga gabah dan beras serta meminta pemerintah untuk menghentikan impor beras. Wapres mengatakan Indonesia sudah tidak mengimpor beras selama enam bulan terakhir. Pemerintah kini tidak lagi memikirkan opsi impor beras tetapi memusatkan perhatian pada upaya menaikkan pendapatan petani dan peningkatan produksi pangan. (Bisnis/rar) |
© Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited. |
Bisnis 8-Apr-08: Gula rafinasi eceran harus ditarik
| Perdagangan | |||||||||||||||||||||
| Selasa, 08/04/2008 | |||||||||||||||||||||
| 'Gula rafinasi eceran harus ditarik' | |||||||||||||||||||||
| JAKARTA: Petani tebu menilai penerapan surat Menteri Perdagangan No.357/2008 tentang peredaran gula rafinasi tidak bakal efektif tanpa dibarengi dengan upaya sweeping dan penarikan oleh pemerintah dan aparat. Ketua I Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) Widodo mengatakan kebijakan pemerintah tanpa diiringi dengan penarikan gula rafinasi tidak akan berlangsung efektif. Sebab, lanjut dia, masyarakat sudah telanjur terbiasa mengonsumsi gula rafinasi. "Pemerintah harus melakukan penarikan gula rafinasi yang diecer pedagang, tidak mengandalkan industri rafinasi untuk menariknya," katanya kepada Bisnis kemarin. Ketua APTRI Abdul Wachid mendesak pemerintah agar memastikan berapa besar kebutuhan industri makanan dan minuman terhadap gula rafinasi. "Dan hanya mengeluarkan izin impor rafinasi sesuai kebutuhan," ujarnya. Jangan dipojokkan Ketua Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) Natsir Mansur mengatakan penyebab terjadinya rembesan gula rafinasi di pasar-pasar adalah ketentuan pemerintah mengenai pergulaan yang salah, terutama sejak menggunakan gula rafinasi untuk kepentingan operasi pasar. "Industri gula rafinasi jangan dipojokkan. Justru pemerintah yang patut disalahkan. Tahun lalu, operasi pasar menggunakan gula rafinasi. Kebijakan itu melanggar Peraturan Menperindag No. 527/2004. Di situ awal bencana ini," katanya. Selain itu, kata dia, pemerintah terlalu banyak memberikan izin impor untuk industri makanan dan minuman sehingga gula rafinasi dalam negeri tidak bisa diserap karena nilai importasi langsung lebih murah. Kemudian, kata dia, pemerintah juga mengabaikan keputusan dewan gula (DGI) terutama ketika memberikan izin impor gula putih kepada Perum Bulog dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI) sebesar 110.000 ton, dan impor raw sugar untuk PTPN II 20.000 ton. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu meminta seluruh pelaku industri gula rafinasi mematuhi surat No.357/ 2008, dan menarik gula rafinasi yang diduga beredar di tingkat pengecer. Surat Mendag yang diedarkan sejak 2 April itu memberikan waktu kepada lima perusahaan gula rafinasi hingga tanggal 16 April untuk menjamin peredaran komoditas itu di tingkat pengecer tidak terjadi lagi. Mari meminta produsen gula rafinasi agar jangan sampai ada penjualan ke nonindustri, sebab komoditas ini hanya diperuntukkan memenuhi permintaan industri makanan dan minuman (mamin). Dia menjelaskan surat itu berlaku untuk semua industri gula rafinasi, baik yang sudah beroperasi maupun yang akan ber operasi. Saat ini, ada lima perusahaan gula rafinasi berbahan baku impor yang beroperasi di Indonesia. "Ya jelas, itu [surat No.357/2008] aplicable untuk semua [industri gula rafinasi], kami menegaskan peraturan yang ada, yaitu bahwa seluruh sektor gula rafinasi hanya boleh untuk industri," katanya di Jakarta, kemarin. Pemerintah masih mempelajari distribusi gula rafinasi dan tidak menutup kemungkinan bakal menerapkan pengaturan yang mirip dengan pupuk, yakni sistem terbuka dan tertutup. "Kami lihat dulu, kami tegaskan itu dulu [ketentuan gula rafinasi]." (10) (redaksi@bisnis.co.id) Bisnis Indonesia | |||||||||||||||||||||
© Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited. | |||||||||||||||||||||
Friday, April 4, 2008
Bisnis 3-Apr-08: Kadin Minta 4 Komoditas Pangan Strategis Diproteksi
| Agribisnis | ||||||||||||||||||||||||||||
| Kamis, 03/04/2008 | ||||||||||||||||||||||||||||
| BUDI DAYA Kadin minta 4 komoditas pangan strategis diproteksi | ||||||||||||||||||||||||||||
| JAKARTA: Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) meminta pemerintah memproteksi empat komoditas pangan strategis, yaitu beras, jagung, kedelai, dan gula. Ketua Komite Tetap Bidang Kebijakan Publik Kadin Utama Kajo mengemukakan perlindungan terhadap empat komoditas strategis ini dilakukan untuk melindungi petani dari penurunan harga pada saat musim panen, dan melindungi konsumen ketika terjadi lonjakan harga. Dengan begitu, jelasnya, proteksi yang dilakukan terhadap empat komoditas ini tidak hanya dari sisi produksi, namun juga dari sisi konsumsi. Mengenai mekanisme proteksi, menurutnya, efektif dilakukan dengan cara negosiasi oleh pemerintah dalam perundingan organisasi perdagangan internasional, maupun melalui kerja sama bilateral. "Negosiasi ini diperlukan agar tidak ada tuduhan dumping, terutama di dalam kawasan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)," paparnya, di sela-sela Rakornas 2008 Kadin, di Jakarta, kemarin. (Bisnis/esu) | ||||||||||||||||||||||||||||
© Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited. | ||||||||||||||||||||||||||||
Bisnis 4-Apr-08: KUD di Jatim Mulai Beli Gabah Petani (Mana BULOG dg HPP RP 2000/kgnya?)
| Agribisnis |
| Jumat, 04/04/2008 |
| BUDIDAYA KUD di Jatim mulai beli gabah petani |
| SURABAYA: Kalangan koperasi unit desa (KUD) di Jawa Timur mulai membeli gabah petani seharga Rp1.600 - Rp1.700/kg gabah kering sawah (GKS), melalui sistem bank padi yang dikembangkan Kementerian Koperasi & UKM sejak 2002. Pengadaan gabah sistem bank padi di Jatim pada 2007 mencapai 5.404 ton seharga Rp20,094 miliar yang dilakukan 35 KUD di 29 kabupaten sentra padi di provinsi tersebut. Mihandri, manajer KUD Padangan, Kab. Bojonegoro, mengatakan KUD tersebut menerapkan pembelian gabah petani sistem bank padi sejak beberapa tahun terakhir, dan berlanjut lagi tahun ini. KUD Tri Karya, Kab. Banyuwangi, juga merupakan KUD pelaku sistem bank padi sejak 2002. "Di wilayah kerja kami mulai ada panen padi dan kami tahun ini menargetkan pembelian gabah petani 700 ton. Harga gabah petani di sini (Banyuwangi) Rp2.100/kg," ujar Suyanto, manajer KUD Tri Karya, kepada Bisnis, kemarin. (Bisnis/k22) |
© Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited. |
Kompas 4-Apr-08: Petani Percepat Tanam
| |
| KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN / Kompas Images Petani di Desa Parakanmulya, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang, menyiapkan lahan persemaian bibit di sawahnya, Rabu (2/4). Sejumlah petani Karawang dan Purwakarta, Jawa Barat, mempercepat masa tanam untuk mengantisipasi perubahan iklim dan kemungkinan memburuknya hasil pertanian. |
Purwakarta, Kompas - Petani di sejumlah desa di Kecamatan Purwakarta dan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, mempercepat masa tanam kedua untuk menghindari risiko kekeringan saat kemarau nanti. Adapun di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kelompok petani telanjur menjual gabah ke tengkulak.
Mereka langsung menebar benih dan mengolah lahan lagi meski panen baru usai. Wawan Sukarwan (45), petani di Kelurahan Nagri Tengah, Purwakarta, Kamis (3/4), mengatakan, petani khawatir situasinya seperti tahun lalu. Tanaman mengering karena hujan tak turun lagi sejak padi berusia 30 hari dan tidak ada air di saluran irigasi. Idealnya, sawah dibiarkan (bera) selama 1-2 bulan untuk memulihkan kondisi tanah serta memutus siklus hama.
Kini, petani mulai menebar benih serta mengolah lahan, dan memanfaatkan debit air irigasi yang masih normal ketika hujan sering turun seperti sekarang.
Wanti (65), petani lainnya di Kelurahan Nagri Kidul, Purwakarta, menambahkan, musim kemarau tahun 2007 datang lebih cepat dibandingkan dengan yang diperkirakan petani. Akibatnya, tanaman padi mengering dan mati karena tidak diairi pada usia 30-45 hari.
Belum merata
Di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, kelompok tani mengatakan, informasi mengenai penetapan harga pembelian pemerintah (HPP) oleh Pemerintah Kabupaten Bantul belum merata. Sunardi, Ketua Kelompok Bakti Tani Desa Srigading Sanden, Bantul, mengaku sudah menjual gabahnya Rp 1.800 per kg kepada tengkulak. Sunardi berharap dinas pertanian dan kehutanan memberi informasi detail tentang mekanisme pembelian gabah.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto menjelaskan, petani yang ingin menjual gabah silakan menghubungi Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul.
”Petugas kami akan terjun ke lapangan untuk menunggui panen mereka. Jadi, pembelian yang kami lakukan berdasarkan permintaan petani,” kata Edy.
Sementara itu, sebagian besar petani Kabupaten Blitar, Jawa Timur, memilih tak menjual seluruh hasil panennya untuk mengantisipasi paceklik. Sumarji, petani Desa Ponggok, Blitar, mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan di luar beras, mereka kerja sebagai buruh atau tukang ojek. Kepala Perum Bulog Subdivre Cianjur Alwi Umri, Kamis (3/4), mengatakan, hingga 31 Maret, pihaknya telah menyerap beras petani 4.300 ton, dari rencana pembelian tahun 2008 sebesar 34.000 ton.
Mugiono, petani di Kecamatan Gurah, Kediri, menambahkan, rendahnya kesejahteraan petani karena lahan kurang dari 0,3 hektar atau lebih dari 2 hektar, tetapi menyewa. (MKN/CHE/HLN/AHA/ENY/NIK/APA)
Thursday, April 3, 2008
Kompas 4-Apr-08: Pitoyo Ngatimin, Instruktur Pertanian Sayur Organik
| |
| KOMPAS/ANTONY LEE / Kompas Images Pitoyo Ngatimin |
Oleh Antony Lee
Saat tidak lagi menggunakan pupuk serta pembasmi hama kimia, dan beralih pada kotoran sapi sebagai pupuk sekitar tahun 1998, Pitoyo menjadi bahan tertawaan petani lain. Namun, kurang dari 10 tahun kemudian, dia berhasil menemukan formulasi pupuk organik dari urine (air seni) dan feses (kotoran) sapi yang bisa meningkatkan kualitas produk.
Petani Dusun Selo Ngisor, Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, ini bahkan kerap diminta mengajarkan cara bertanam organik dengan pemanfaatan pupuk kandang dan pembasmi hama alami oleh kelompok tani Tranggulasi, tempatnya bernaung. Tak hanya itu, dia juga diminta mengajari petani dari daerah lain, seperti dari Temanggung, Magelang, Sukoharjo, dan Purbalingga.
Ini pula yang membawa Pitoyo dan kelompoknya mendapat penghargaan dalam bidang budidaya sayuran organik tingkat nasional tahun 2006. Lulusan sekolah pertanian menengah atas ini juga tak pernah membayangkan model pertanian yang diterapkannya itu membawa dia bisa bertemu langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Dalam bertani, Pitoyo memadukan pupuk dari feses dan urine sapi yang sudah difermentasi. Untuk memberantas hama tanaman, dia memanfaatkan bahan-bahan alami. Hanya saja, bahan yang dia gunakan sangat beragam, sesuai dengan jenis hamanya. Untuk memberantas ulat misalnya, dia menyemprotkan rebusan tembakau dan sirih.
Sebagai pengganti pupuk kimia, Pitoyo menampung urine sapi miliknya dan sapi dari anggota kelompok tani yang lain. Sekitar 50 liter urine yang biasanya terkumpul untuk sekali pengolahan itu dicampur dengan empon-empon atau tumbukan bumbu dapur seperti kunyit, temulawak, jahe, dan lengkuas. Campuran ini lantas ditambah dengan air 10 liter, lalu direbus hingga mendidih.
Setelah ditiriskan, rebusan itu dicampur dengan 5 kilogram tetes tebu, 2,5 kilogram terasi, serta tiga potong besar tempe busuk. Semua bahan tersebut lalu disimpan di dalam tong yang ditutup rapat selama setengah bulan. Setiap tiga hari sekali, adonan itu diaduk selama sekitar lima menit. Setiap satu gelas pupuk yang sudah jadi itu bisa dicampur dengan 14 liter air.
”Resep ini saya dapat saat ada pelatihan dengan Ikatan Pengendali Hama Terpadu Indonesia. Sekarang kami sudah bisa mengembangkan formula yang lebih kuat dan tidak lagi menggunakan empon-empon,” kata Pitoyo yang menyebut produk itu sebagai pupuk kocor.
Meski tidak mau menyebutkan cara pembuatan formula pengembangan ini, dia mengaku hasilnya jauh lebih kuat, meskipun dia tetap tidak menggunakan bahan kimia.
Selain pupuk kocor tersebut, dia juga menggunakan pupuk kandang yang diolah dengan proses bokasi. Kotoran sapi ditumpuk menjadi beberapa lapisan dan diberi abu dapur. Bahan-bahan itu kemudian dicampur dengan beberapa bahan khusus lainnya.
Lebih hemat
Dengan menggunakan metode ini, dia bisa menekan biaya produksi karena bahan yang digunakan tak harus dibeli. Sebagai contoh, setiap kubis yang biasanya membutuhkan biaya produksi Rp 500 dengan pupuk dan pembasmi hama kimia, dengan organik bisa ditekan hingga hanya Rp 300 per buah. Ini sudah termasuk tenaga kerja.
Selain itu, hasil pertanian dengan menggunakan cara ini juga bisa lebih tahan lama. Tanaman kubis yang menggunakan pupuk kimia, bila tidak segera dipanen setelah saatnya tiba, akan busuk dalam waktu sekitar tiga hari. Namun, dengan pupuk kandang, meski sudah lewat beberapa minggu, kubis itu masih belum busuk, hanya perlahan mengering.
Ketika mulai menggunakan pupuk kandang tahun 1998, Pitoyo belum tahu banyak perihal pertanian organik. Dia hanya terdorong oleh perasaan kesal karena hasil panen kubis dari lahan seluas 4.000 meter persegi miliknya hanya dihargai Rp 60.000.
Harga kubis pada saat itu sangat jatuh, hanya Rp 60 per kilogram. Padahal, biaya untuk membeli pupuk kimia dan pembasmi hama cukup besar. Ongkos produksinya diperkirakan berkisar Rp 250 per kubis dengan berat 0,5-1 kilogram.
”Saya waktu itu sudah benar-benar kesal karena modal habis. Saya lalu mencoba menanam kubis lagi, tetapi hanya menggunakan pupuk kandang. Saat pertama kali mencoba, gagal total karena tanah sudah terbiasa dengan pupuk kimia,” ujar Pitoyo.
Namun, dia tidak menyerah dan terus mencoba hingga empat kali tanam. Pada saat itu, apa yang dia lakukan ditertawakan petani lain. Bahkan, keluarganya ikut mencemooh karena berkali-kali menemui kegagalan. Pada tanam kedua, hasilnya mulai membaik, begitu pula dengan tanam ketiga. Baru pada panen keempat hasilnya sudah setara dengan saat dia menggunakan pupuk kimia.
Fermentasi
Ketika mencoba lepas dari pupuk kimia, dia sama sekali belum memahami cara fermentasi. Pitoyo hanya meyakini, jauh sebelum pupuk kimia dikenal, nenek moyangnya sudah bertani dan memanfaatkan pupuk kandang. Ini akhirnya bisa dibuktikan dan dikembangkannya. Dalam kelompok tani yang dia bina, ada sekitar 20 hektar lahan yang sudah terlepas dari bahan kimia.
Meskipun sudah berhasil menyebarkan cara bertani yang lebih aman bagi lingkungan dan kesehatan ini, Pitoyo masih belum puas. Impiannya untuk mengembangkan pertanian organik yang benar-benar mandiri, menurut dia, masih separuh jalan. Kelompok taninya belum bisa mengembangkan pembibitan organik karena keterbatasan modal.
Selain itu, pemasaran produk sayuran organik ini pun masih terbatas. Baru 5 persen dari hasil produksi kelompok taninya yang diserap pasar khusus, yang mau memberi harga dua kali lipat dibandingkan dengan harga sayur sejenis.
Karena itu, kelebihan produk pertanian organik tersebut masih harus dijual di pasar tradisional yang belum terlalu menghargai sayuran organik. Di pasar ini, harga sayuran organik itu sama dengan sayur yang dikembangkan petani dengan menggunakan pupuk kimia.
”Sampai sekarang kami masih mencoba mengembangkan pertanian organik yang mandiri, mulai dari hulu hingga hilir,” katanya.